Hujan Deras

Hujan yang teramat deras dibulan Maret
Sejuta titik menghujam jatuh ke bumi
Membawa sejuta harapan untuk benih – benih mimpi

Ini bukan air mata sang kala
Melainkan harta karun yang tumpah terburai
Untuk negeri yang katanya akan berubah haluan
Atas nama mimpi, harapan dan pengorbanan

Petir pun bergeser mencakar
Menambah sebuah tantangan
Menebarkan teror ancaman kehancuran
Atas nama penguasa, pemegang tahta kejayaan

Sanggupkah kalian berdiri bertahan
Diantara jatuhnya hujan dan lambaian halilintar
Ataukah kalian hanya akan berteduh menepi
Dan menandakan bahwa seolah semua telah mati

Untuk para petarung negeri, yang berperisai poster dan bersenjatakan janji..

Advertisements

Outsourcing

Tidak ada kata yang paling tepat untuk menjelaskan, mahkluk atau wujud apakah ini, selain sebuah konteks buram dari sebuah sistem kepegawaian yang saat ini kian marak digunakan di negeri ini. Bangsa ini memang hancur, sehancur mental pengusahanya yang hanya memikirkan isi perutnya sendiri, dengan melupakan sebuah problema klasik bernama hati nurani.

Read the rest of this entry »

PHK

Apa yang ada si benak anda apabila anda di PHK..??
Yang paling pasti detik itu juga, anda merasa bahwa langit dan segala isiya yang menggantung diatasnya akan jatuh menimpa kepala anda. Jangankan untuk bercerita pada orang lain, bahkan untuk memahami kenyataan yang sedang anda hadapi pun, mungkin sangat dirasakan tidak mungkin. Namun apapun yang terjadi, kehidupan memiliki jalannya sendiri, dimana kita tidak akan pernah dapat memilih, hitam atau putih, panas atau dingin, semuanya sudah harus berjalan, dengan atau tanpa kita sadari.
Dibawah ini ada sedikit tips, untuk memberi pengertian dan sebuah inspirasi berkaitan mengenai hal ini, terutama bagi anda yang memiliki anak kecil.

Read the rest of this entry »

Korban PHK Cari Cacing Untuk Makan

“..lumayan buat biaya kebutuhan sehari-hari. Memang semakin banyak cacing, makin banyak hasilnya. Kalau nasibnya lagi baik bisa dapat banyak, sehari bisa dapat dua ribu rupiah..”

Ini bukan sebuah catatan buram mengenai kenyataan seseorang, melainkan sebuah perspektif hitam dan putih tentang realitas kehidupan, dari seorang kaum proletar sejati, dan bagi golongan akar serabut rumput. Kesulitan sudah terlalu menjadi bagian yang setia dalam hidup kita, sehingga kita dipaksa untuk selalu kokoh berdiri mendongak, diantara rasa gamang, rasa susah, dan juga putus asa.
Masihkah golongan seperti ini bisa disebut sebagai golongan tertindas..?? dimana pihak yang seharusnya tertindas masih dapat tersenyum diantara jeritan tangis yang sesak memenuhi dadanya. Menurut saya, ini merupakan cermin, dari sebuah sistem ekonomi bangsa, yang tidak pernah sanggup untuk menopang dirinya sendiri.
Wahai saudaraku, yang berdiri cemas, diantara lebatnya rumpun rumput ilalang, aku turut berbaris bersama kalian.

Read the rest of this entry »

BHP dan Proses Pembodohan Massal

Setelah terlaksananya perubahan beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) menjadi badan hukum milik negara (BHMN), kini muncul rencana untuk melaksanakan hal yang sama di beberapa PTN lain. PTN yang telah berubah menjadi BHMN tersebut adalah UI, ITB, UGM, IPB, UPI, USU dan Unair. BHP (Badan Hukum Pendidikan) merupakan perluasan dari status BHMN yang nantinya akan diterapkan pada PT lainnya, bahkan pada pendidikan dasar dan menengah.

Tujuan dari perubahan status PTN tersebut atau lebih sering disebut dengan otonomi kampus adalah untuk memberikan wewenang secara mandiri dalam pengelolaannya. Kampus diberikan kreativitas sebesar-besarnya untuk mencari sumber pendanaannya. Di antara bentuk kreativitas yang dimaksud adalah kreativitas dalam mengembangkan kompetensi kampus sebagai basis riset sehingga dapat menghasilkan banyak paten, serta income generating technology.

Akan tetapi, sejak pelaksanaan otonomi kampus pada tahun 1999, di beberapa PT-BHMN terjadi kenaikan biaya pendidikan, bahkan sampai tiga kali lipat. Selanjutnya, ada trend di beberapa PTN/universitas tersebut menerima mahasiswa baru dengan jalur khusus yang disertai dengan biaya khusus, hingga 60 jutaan. Sedangkan untuk program regular juga mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu hingga 25 juta. Dengan demikian, otonomi kampus nampaknya lebih cenderung pada bentuk komersialisasi pendidikan.

Read the rest of this entry »

Fajar Merah

Suatu hari, anak seorang korban penghilangan paksa menghadapi masalah di sekolah. Fajar Merah ditanya oleh gurunya mengapa ia mengisi kolom nama ayah dengan nama ibunya, Dyah Sujirah. Fajar menjelaskan bahwa ia tidak mengenal bapaknya. Ibunyalah yang membesarkan dia selama ini. Ibunyalah yang selama ini menjadi ayah bagi dia. Dia sendiri tidak tahu apa bapaknya masih ada atau tidak, karena ibunya juga tidak tahu. Ia tahu bahwa ayahnya adalah Wiji Thukul, tapi ia tidak mengenalnya dengan dekat karena dipisahkan kediktatoran, setelah pertemuan terakhir bulan Desember 1997, ketika Fajar ulang tahun yang ke-3.

Dimana kau sekarang berada wiji..??
Apabila kau masih berdiri, berdiri lah yang tegak..
Apabila kau sedang terduduk, terduduklah dengan nyaman..
Dan apabila kau sedang terbaring..
Terbaringlah dengan tenang..
Demi sang Fajar..
Yang masih merah berkobar seperti semangatmu yang dulu..

Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan

“Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta supaya saya menyerah pada engkau. Lebih baik meninggal daripada menyerah, walaupun bagaimana saya tetap merah putih.”

Karena prajurit ini memang tidak bermaksud menembak mati Musso, ia lari ke desa di dekatnya. Sementara itu pasukan-pasukan bantuan di bawah Kapt. Sumadi telah datang. Musso bersembunyi di sebuah kamar mandi dan tetap menolak menyerah. Akhirnya ia ditembak mati. Mayatnya dibawa ke Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar.

Soe Hok Gie, Orang – orang di persimpangan jalan.

LEKRA

Lembaga Kebudajaan Rakjat atau dikenal dengan akronim Lekra, merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia. Lekra didirikan atas inisiatif DN Aidit, Nyoto, MS Ashar, dan AS Dharta pada 17 Agustus 1950. DN Aidit dan Nyoto saat itu adalah para pemimpin PKI, yang baru dibentuk kembali setelah kegagalan gerakan Muso.

Lekra bekerja khususnya di bidang kebudayaan, kesenian dan ilmu. Lekra bertujuan menghimpun tenaga dan kegiatan para penulis, seniman, dan pelaku kebudayaan lainnya, serta berkeyakinan bahwa kebudayaan dan seni tidak bisa dipisahkan dari rakyat. Salah satu anggota Lekra lainnya yang terkenal adalah penulis Pramoedya Ananta Toer.

Lekra dibubarkan berdasarkan Tap. MPRS No. XXV/MPRS/tahun 1966, tentang pelarangan ajaran Komunisme, Leninisme, dan pembubaran organisasi PKI beserta organisasi massanya.

Manifesto Kebudayaan

adalah konsep kebudayaan nasional yang dikeluarkan oleh para penyair dan pengarang pada 17 Agustus 1963. Manifestasi ini dilakukan guna melawan dominasi dan tekanan dari golongan kiri, dengan ideologi kesenian dan kesusastraan realisme sosial yang dipraktekkan oleh seniman-seniman yang terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Manifesto Kebudayaan juga dijuluki oleh pihak kiri sebagai Manikebu.

Pencetus manifestasi ini adalah Wiratmo Soekito, dan ditandatangani antara lain oleh Arief Budiman, Taufik Ismail dan Goenawan Mohammad.

Diilhami oleh semangat humanisme universal yang pertama kali dinyatakan lewat Surat Kepercayaan Gelanggang, Manifesto ini menyerukan, antara lain, pentingnya keterlibatan setiap sektor dalam perjuangan kebudayaan di Indonesia. Manifesto itu sendiri tidak menjabarkan dengan terinci langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk memperjuangkan “martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah masyarakat bangsa-bangsa”. Sehingga bisa dikatakan butir-butir yang disampaikan sebenarnya sama sekali tidak berlawanan dengan semangat yang hidup pada jaman itu: keinginan “menyempurnakan kondisi hidup manusia”.

Mungkin satu-satunya prinsip yang membedakan adalah penolakan mereka terhadap hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan – posisi Sutan Takdir Alisjahbana dalam “Polemik Kebudayaan” 1930an. Dengan demikian, posisi Lekra yang mendahulukan pemajuan kebudayaan rakyat demi pembebasan kaum tertindas: buruh dan tani, dilihat sebagai upaya politisasi gerak kebudayaan. Ini dianggap mengancam supremasi prinsip-prinsip estetika dan menjerumuskan karya seni pada alat propaganda politik yang sarat dengan slogan-slogan verbal belaka.

Patriotisme

Apakah patriotisme itu ?
Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya ?
Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu ?
Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit ?
Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh ?
Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya ?
Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan ?

Read the rest of this entry »

Wiji Thukul

Tidak banyak orang yang mengetahui seorang Wiji Thukul, namun menurut saya, dia adalah seorang pahlawan yang sejati, pahlawan dengan kata – kata, pahlawan yang tak dikenal.

Wiji Thukul adalah satu yang menjadi inspirasi bagi banyak pergerakan kiri. Lebih dari sekadar inspirasi, ia merupakan sebuah realitas. Laki-laki kelahiran kampung Sorogenen, Solo, 23 Agustus 1963 ini memiliki nama asli Wiji Widodo. Wiji berasal dari keluarga tukang becak. Kemudian, dia hilang hingga kini. Read the rest of this entry »