Sebuah Petunjuk

Berikan aku 1001 alasan..
Untuk selalu memahamimu dengan cara yang kau mau
Berikan aku 1001 kesabaran..
Agar aku bisa selalu bersyukur dengan apa yang aku punya..
Berikan aku 1001 kekuatan..
Sebab hidup ini tak pernah selalu mudah dimengerti
Berikan aku 1001 jalan..
Agar aku tidak pernah tersesat dalam labirin yang kau ciptakan
Berikan saja aku sebuah petunjuk..
Supaya aku selamat dari segala keindahan yang hanya datang dan pergi semaunya.

Amin.
@coffee shop, 28 April 2010.

Advertisements

Seperti Ibu

Dia satu-satunya..
Yang membuat aku lupa, akan sebuah kenyataan pasti
Dimana manusia tak pernah ada yang sempurna
Dia satu-satunya..
Yang membuat aku buta, akan semua keraguan
Dimana ucapan tak selalu sejalan dengan perbuatan
Dia satu-satunya..
Yang membuatku terbangun, dari setiap mimpi panjang
Dimana mimpi adalah sebuah motivasi yang paling nyata
Dia satu-satunya..
Yang menjadi alasanku tetap hidup, diantara peperangan
Dia satu-satunya..
Yang pernah membuatku begitu terluka, dan sembuh seketika

Dia satu-satunya..
Yang akan terus ku jaga hingga aku mati..
Dia satu-satunya..
Yang seperti ibuku.

Sang Sia-sia

Apa yang bisa didapat..
Untuk aku manusia sisa-sisa
Selain bunyi makanan enak
Ataupun sebuah botol kosong

Apa yang bisa didapat..
Untuk aku sang manusia sisa-sisa
Selain mimpi yang terlalu dalam
Ataupun sekeping pecahan kaca

Apa yang harus kubuat..
Dari aku sang manusia sisa-sisa
Selain kerja keras luar biasa
Dan hasilnya sebuah mimpi sia-sia.

Tingginya, dalamnya dan gelapnya

Betapa tinggi, sebuah harga yang harus ku tebus
Untuk meraih sebuah mimpi diantara rintik hujan deras
bukan sekuntum bunga, melainkan sebatang pohon kehidupan
bukan pelangi, melainkan langit cerah berkilauan

Betapa dalam, sumur yang harus ku tutup
Untuk menemukan sebuah kehidupan, diantara kesunyian
Bukan sebuah permata, melainkan sebuah benih ketaqwaan
Bukan selembar sutera, melainkan sejumput ilalang kebahagiaan

Betapa gelap, lorong yang harus ke tempuh
Untuk menemukan gerbang, sebelum berlalu pulang
Bukan sebuah istana, melainkan sebuah pintu keindahan
Bukan juga kemakmuran, melainkan sebuah keteguhan hati

Biarlah tingginya, dalamnya, juga gelapnya..
Karena diantaranya, adalah lembaran catatan kehidupan
Yang akan ku genggam erat, diantara rajutan helai masa depan
Menjadikannya sebuah kekuatan, keberanian, dan kehormatan.

I Wish You Know..

This bedroom light distracts my stare
I find it hard to keep still
Everything is so still, like this
I wont have to wait for long before
I start to see that your the only thing that works

Will you stay, keep this evening calm
I’ll shield you from this night
I’ll make everything alright

Will you make sure the door is locked
We wont have to talk,
as long as you are here with me again

Saat Kau Tertidur

Ketika lelap tidurmu..
Ijinkan aku untuk melihat apa dalam mimpimu
Ketika kau tengah tertidur..
Ijinkan kurancang setiap detil masa depan mu
Dalam nyenyak tidurmu..
Ijinkan kucari, apapun yang ada dalam benakmu
Diantara lelahnya tubuhmu..
Ijinkan aku untuk setia melindungimu dari bahaya
Jauh dalam indahnya mimpimu..
Ijinkan aku menjadi saksi tentang kisahmu
Dan ketika pagi menjelang..
Aku mohon Tuhan untuk mengijinkan kau tetap di sampingku.

Sujudku Hanya Kepada Mu

Saat ku berdoa meminta kupu-kupu, Tuhan memberikanku seekor ulat..
Saat ku berdoa meminta setangkai bunga, Tuhan memberikanku sebatang kaktus..
Saat ku berdoa meminta sebuah pemandangan, Tuhan memberikanku Hujan Badai..
Aku begitu KECEWA.. Namun akhirnya aku sadar..
Ulat itu akan berubah menjadi kupu – kupu pada waktunya..
Kaktus itu akan berbunga indah luarbiasa pada waktunya..
Dan setelah hujan badai berhenti segera aku akan melihat Pelangi..
Demikian waktu yang mutlak milik  Tuhan, Selalu senantiasa indah..
Tepat Pada Waktunya…

Amin.

Untuk Sebuah Pelangi

Hujan deras itu sudah berhenti sejak sore menjelang malam
Tapi pelangi tak juga datang membilas basahnya alam
Menyeka bilangan seribu, yang membawa kesejukkan abadi
Mungkin pergi dan pelangi tak akan pernah kembali


Setelah kutitipkan sebuah lisung
Pemberian sahabat dari desa di atas bukit hijau
Jimat usang pembawa semangat mencari makan
Untuk keberuntunganmu, beserta anakmu.


Merah Hitam Kecoklatan

Dibawah pohon randu.. diantara angin kencang..
Aku berkaca pada basahnya tanah yg terinjak..
Merah.. hitam.. kecoklatan..
Seperti darah.. batu karang.. dan akar pohon angsana..
Hujan tak juga reda dari sore tadi..
Gerimis tanpa mendung.. dan berujung tanpa pelangi.

Sang Dewa

Seribu pedang terbaik.. bisa ku tempa dalam semalam saja..
Tapi tetap tak pernah dapat melawan seorang dewa penguasa neraka.
Seribu tentara tergagah.. berdiri kokoh diantara api dan halilintar..
Tapi tetap takkan pernah mampu melukai sang dewa..
Seribu anak panah kulepaskan berbarengan..
Berkilat-kilat dan menyambar bersahutan..
Sedikitpun tubuh itu tak pernah bergeming..

Aku berbalik.. berjalan mundur..
Tapi tidak untuk pulang.. tidak juga menyerah..
Hanya duduk diam setengah bersembahyang..

Wahai Sang Hyang Jagat Raya..
Aku terduduk disini.. mengharap ijin dan restu..
Untuk pulang dan beristirahat..
Hingga suatu waktu.. Aku melihatnya tersenyum..
Meskipun bukan untukku..

Belalang Tua.. yang terlalu sadar.. bahwa pelangi selalu sebuah bias semu.. yang tak pernah dapat digenggam.. bahkan disentuh.. hanya dapat ditunggu.. sore hari..  setelah hujan deras.. dan pelangi hanya datang sekilas saja.. dan akan pergi lagi menghilang.. kembali ke pangkuan sang dewa..

Bisu Tanpa Ampun

Sore bulan November..
Semakin redup dan beranjak malam
Desember pun mulai menampakkan bias – bias nya
Mengapa November ini berlalu begitu cepat
Seperti berlari sunyi menjemput kebohongan yang nyata
Tiga atau empat langkah pandanganku jauhnya..
Tertutup pekatnya mendung, awan hitam dan indahnya kepalsuan.

Dalam doaku petang ini..
Datanglah Desember, dan biarkan aku berlari sunyi..
Tergopoh – gopoh, membawa semua cerita dan mimpi berhamburan.
Berserakan.. diantara caci maki doa yang terlanjur dipanjatkan..
Senja ini tak pernah tertunda.. malam akan segera datang..
Menggantikan mimpi yang tak pernah menjadi harapan
Berdiri menantang, menyerang.. membantai bisu tanpa ampunan

Dalam doaku saat malam menjelang..
Berikan aku satu Januari, secarik kertas dan sebuah pena..
Biar ku tulis, awal dari sebuah dongeng..
Tentang putriku Jibril, yang cantik seperti ibunya..
Atau Mikail puteraku, yang pandai membuat belati..

Pagi Hari Ini

Pagi ini tak pernah sama dengan kemarin
Karena pagi ini begitu dingin
Sedingin harapan lalu yang telah mati
Matahari mulai menampakan sinarnya
Membawa sebuah harapan dan cerita baru
Namun tetap dengan tema dan judul lama
Tentang pengorbanan, rasa sakit, dan sia – sia
Tanpa pilihan, sejengkal demi sejengkal ku jejaki
Dan tetap akan kujejaki, hingga perjalanan ini berujung
Pada sebuah harapan baru, yang entah itu apa.

« Older entries