Cerita Srikandi

Aku menjadi saksi diantara megahnya pertempuran
namun aku bukanlah seorang prajurit
bukan perwira, bukan pula telik sandi
Aku adalah seorang pandai besi
Yang setia, melayani para srikandi
Kuraut kayu terbaik, ku bentuk sebuah gondewa
Dari tungku apiku, hasilkan panah tertajam
Dan juga ku tempa keris paling bertuah

Betapa gagahnya tuanku
Berdiri kokoh diantara asap peperangan
Dan diatas basahnya tanah oleh keringat dan darah
Anak panahnya terbang mengejar tubuh – tubuh lawan
Kerisnya bertuah, menjadikannya api,
Yang berkobar menebarkan ketakutan

Namun pagi ini begitu hening
Matahari pagi, tanpa rasa enggan bersinar indah
Terasa hangat, tidak sedingin tungku tempa ku
Pertempuran masih belum berakhir

Namun tugasku sudahlah usai
Tungku ini tak akan pernah menyala lagi
Gondewa, keris, pedang dan tombak
Sudah ku sepuh dan mengeram di dalam peti
Meskipun kedamaian belum juga menampakkan diri

Kini saatnya aku untuk berlalu pulang
Dengan menggenggam banyak cerita
Tentang megahnya pertempuran ini
Juga tentang gagahnya srikandi
Akan ku ceritakan semuanya
Kepada kerabat dan keluarga di desa
Dengan penuh rasa bangga, dan tanpa kekecewaan


Belalang Tua yang sempat berada diantara sebuah pertempuran yang masih enggan berhenti..

Advertisements

Cerita Si Akar Rumput

Kita adalah sekumpulan akar rumput
Mencengkeram tanah gembur yang kini beranjak gersang
Kita adalah sekumpulan akar rumput
Yang harus kenyang dengan rintik – rintik gerimis
Kita adalah sekumpulan akar rumput
Bercerai berai diantara hantaman hujan badai
Kita adalah sekumpulan akar rumput
Yang rapuh diantara bulir pasir musim kemarau
Kita adalah sekumpulan akar rumput
Yang harus selalu bercermin dalam tetesan embun pagi
Kita adalah sekumpulan akar rumput
Yang selalu disiangi dengan alasan keseimbangan ekosistem

Kita adalah sekumpulan akar rumput
Yang tampak menguning menunggu layu dan kering
Kita adalah sekumpulan akar rumput
Yang berdiri terselip diantara tanaman padi
Kami sama berwarna hijau
Tapi rumput, tetaplah rumput
Disiangi, dicabut, dan dibuang petani

..Untuk semua buruh tertindas, yang hampir tenggelam ditelan harapan – harapannya sendiri, tanpa kekuatan untuk melawan..

Hitam-Putih Masa Depan

Dibawah pohon aku terduduk..
beristirahat ditengah perjalanan, yang sangat melelahkan..
Memeluk keheningan diantara deru peperangan..
Pertempuran yang takkan pernah berakhir..
Sejenak, aku terdiam..
Diantara wajah – wajah pucat yang gagah berani..
Juga wajah – wajah keras, yang mengisyaratkan ketakutan..
Seketika, aku terhenyak..
menerawang masa depan yang begitu indah..
Berlumur dosa, bergelimang harta, penuh kenangan dan berdebu..
Dengan segera, aku bangun dan berdiri..
Tersadar.. itu semua, adalah masa lalu..
bukan sebuah masa depan..
Karena masa depan, adalah sebuah pertempuran.. yang abadi..

Nyanyian Masa Depan

Kata – kata ini adalah nyanyian..
Bukan sebuah lagu cinta ataupun irama berdansa..
Ini adalah uraian perjuangan..
Yang menghantam keras, menyimpan dendam diantara perdamaian..
Kata – kata ini bukan sekedar perbuatan..
Tapi jeritan terkeras, dan pukulan mematikan atas nama perlawanan..
Bagi kami barisan orang yang berdiri diantara mimpi dan kenyataan..
Ini bukan sekedar distorsi tajam ataupun hingar bingar irama kekerasan..
Namun juga sebuah doa, bagi kami yang berjuang keras diujung kehancuran..
Diantara kegelisahan.. tanpa sedikitpun kemapanan..

Dari sang belalang tua, untuk buruh harian, karyawan outsourcing dan semua lapisan pekerja rendah yang hanya bisa memandang gelapnya masa depan kalian. Kalian adalah peluru yang siap meluncur membabi buta kapan saja, hanya saja waktunya yang belum tiba, sabarlah menanti, saat itu akan tiba, dan buat diri kalian percaya, bahwa kita semua adalah sebuah kekuatan yang maha dahsyat, yang siap menghancurkan harapan – harapan, dan mimpi – mimpi masa depan bangsa ini yang kalian bangun tanpa lelah dan tanpa sedkitpun sisa penghargaan untuk kerja keras kalian.

Newer entries »