Bisu Tanpa Ampun

Sore bulan November..
Semakin redup dan beranjak malam
Desember pun mulai menampakkan bias – bias nya
Mengapa November ini berlalu begitu cepat
Seperti berlari sunyi menjemput kebohongan yang nyata
Tiga atau empat langkah pandanganku jauhnya..
Tertutup pekatnya mendung, awan hitam dan indahnya kepalsuan.

Dalam doaku petang ini..
Datanglah Desember, dan biarkan aku berlari sunyi..
Tergopoh – gopoh, membawa semua cerita dan mimpi berhamburan.
Berserakan.. diantara caci maki doa yang terlanjur dipanjatkan..
Senja ini tak pernah tertunda.. malam akan segera datang..
Menggantikan mimpi yang tak pernah menjadi harapan
Berdiri menantang, menyerang.. membantai bisu tanpa ampunan

Dalam doaku saat malam menjelang..
Berikan aku satu Januari, secarik kertas dan sebuah pena..
Biar ku tulis, awal dari sebuah dongeng..
Tentang putriku Jibril, yang cantik seperti ibunya..
Atau Mikail puteraku, yang pandai membuat belati..

Advertisements

Bandung Selatan

senja itu.. dataran tinggi bandung selatan..
putih.. abu.. dipayungi kabut dan awan..
senja ini bercerita..
tentang indahnya dongeng tentang tiga atau empat gulir purnama
yang beranjak hilang.. di telan malam temaram
meninggalkan setitik kecil bintang yang pudar..
yang menjadi pandu.. jalan kembali pulang
dimana jibril dan mikail pun bersorak kegirangan
berlarian.. melompat dan memeluk..
di antara mimpi yang paling nyata.