Memar, Hitamnya Luka, Terpatri

Amarah tak terbendung
Memar dan luka hitam terpatri
Menjadikannya sebuah penyakit
Mengalir diantara gelimang darah
Deras diantara desakkan nafsu hina
Bercampur tawa terkeras, dan senyum kemenangan
Menebar sejuta ketakutan, yang hadir di setiap tidurmu

Ujung mata ini saksinya, yang menjadikanmu abu
Terbakar diantara bara kematian yang kekal
Hingga terlepas sebuah jiwa dari raga yang rapuh
Dan saat itu aku masih tetap akan mendongak berdiri
Sombong, angkuh, tanpa ampunan

Bagimu pecundang, yang bangunkan belalang tua dari istirahatnya yang teramat panjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: