Outsourcing

Tidak ada kata yang paling tepat untuk menjelaskan, mahkluk atau wujud apakah ini, selain sebuah konteks buram dari sebuah sistem kepegawaian yang saat ini kian marak digunakan di negeri ini. Bangsa ini memang hancur, sehancur mental pengusahanya yang hanya memikirkan isi perutnya sendiri, dengan melupakan sebuah problema klasik bernama hati nurani.

Pernah di sebutkan bahwa, konsep outsourcing ini pertama kali di gaungkan pada era pemerintahan Megawati oleh sosok seorang Fahmi Idris, namun kebenarannya, saya enggan berkomentar, jujur, masalah ini begitu peka, silahkan anda cari di search engine paling terkenal di muka bumi ini g**gle.com, betapa sulitnya mencari literasi yang jelas mengenai konsep ini.
Maka itu saya sebutkan bahwa hal ini bukan sebuah sistem baru dari dunia kepegawaian, tapi saya lebih senang meyebutnya sebagai konteks buram, tidak hitam, tidak putih, melainkan buram itu sendiri. Dapat dikatakan, konteks ini merupakan bukti dari rasa putus asanya sebuah sistem ekonomi bangsa yang kian lemah, kaum pekerja adalah generator hidup, dari sebuah sistem ekonomi yang positif.
Tren pemakaian tenaga outsourcing ini bisa dikatakan sebagai barometer tingkat negatif sebuah pembangunan ekonomi, dapat dipastikan, bahwa konteks ini memiliki arti bahwa betapa murahnya nilai seorang tenaga kerja. Akan dibawa kemana sistem ekonomi kita ini, apabila keseluruhan sistem itu sendiri sudah mengabaikan tingkat kesejahteraan pegawai yang notabene nya tadi sebagai sebuah generator hidup hanya dengan sebuah alasan bernama efisiensi.
Sistem ini sudah lupa, bahwa rumus kesuksesan suatu bidang usaha, adalah bukan hanya semata – mata dari sebuah strategi yang brilian, namun dibalik itu semua, ada tetesan keringat, dari jutaan pegawai rendahan yang memiliki tingkat kesejahteraan yang sangat rendah. Silahkan anda bayangkan, merupakan sebuah kebenaran adanya, dimana tingkat kesejahteraan tentunya akan berbanding secara tegak lurus dengan hasil pekerjaan seseorang. Sebagai seorang yang awam dan bodoh, saya hanya bisa mengatakan, seharusnya bila tingkat kesejahteraan kaum pegawai rendah itu semakin tinggi, tingkat keberhasilan sebuah proses pekerjaan akan jauh lebih baik, dan tentunya akan membuat tingkat ekonomi kita menjadi jauh lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: