PHK

Apa yang ada si benak anda apabila anda di PHK..??
Yang paling pasti detik itu juga, anda merasa bahwa langit dan segala isiya yang menggantung diatasnya akan jatuh menimpa kepala anda. Jangankan untuk bercerita pada orang lain, bahkan untuk memahami kenyataan yang sedang anda hadapi pun, mungkin sangat dirasakan tidak mungkin. Namun apapun yang terjadi, kehidupan memiliki jalannya sendiri, dimana kita tidak akan pernah dapat memilih, hitam atau putih, panas atau dingin, semuanya sudah harus berjalan, dengan atau tanpa kita sadari.
Dibawah ini ada sedikit tips, untuk memberi pengertian dan sebuah inspirasi berkaitan mengenai hal ini, terutama bagi anda yang memiliki anak kecil.

1. Berterus terang kepada anak
Jangan sembunyikan kenyataan bahwa anda telah di-PHK. Berterus teranglah sedari awal, meskipun tidak semua detail perlu anda beberkan, terutama bila anak masih sangat muda. Anak umur 4 atau 5 tahun cukup diberitahu bahwa “Papah di-PHK hari ini maka papah tidak akan bekerja di kantor (atau pabrik atau rumahsakit) untuk sementara. Tetapi papah akan mencari pekerjaan baru dan pindah ke kantor baru.”
Anak umur 7 atau 8 tahun yang sudah lebih mengerti apa artinya orang bekerja dapat diberitahu, “Papah di-PHK kemarin. Papah agak sedih sebab papah menyukai pekerjaannya dan senang bekerja karena mendapat gaji. Tapi papah akan cari pekerjaan baru dan mungkin akan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Tapi sementara waktu, semuanya akan berjalan seperti biasa. Kamu akan sekolah dan bermain dengan teman-teman dan melakukan hal-hal yang biasa kamu lakukan.”
Kepada anak umur 10 atau 11 tahun anda dapat menceritakan bahwa “Papah di-PHK kemarin. Papah sedikit kecewa karena papah menyukai pekerjaannya dan suka bekerja mencari uang sehingga papah papah bisa membelikan kita berbagai barang yang bagus-bagus. Papah akan mencari kerja lain, tetapi sementara ini semuanya akan berjalan seperti biasa. Kita sementara waktu harus sedikit lebih hati-hati dalam membelanjakan uang kita, tapi selain dari itu semuanya akan tetap sama seperti biasanya.”
(Putuskan di muka apa yang akan anda katakan. Besar kemungkinannya anda sedang berada dalam keadean emosi yang goyah saat itu dan barangkali tidak sejernih biasanya dalam berpikir, maka sebaiknya anda siapkan dulu apa yang akan anda katakan.)

2. Jangan ciptakan kesadaran palsu tentang realita
Dalam upaya melindungi anak terhadap stres emosional dan ekonomi dari PHK, ada orang-tua yang memberi anak-anak mereka mainan-mainan baru dan lain-lain. Tapi ini hanya menciptakan kesadaran palsu tentang realita yang dapat membingungkan anak. Anak dapat melihat bahwa ayah dan ibunya gelisah tentang uang, maka mereka akan berpikir,
“Mengapa mereka masih membelikan kami hadiah-hadiah?” Mereka mulai mempertanyakan kemampuan diri mereka untuk memahami realita dan kejujuran orang-tua mereka. Menciptakan keadaan kontradiktif ini juga dapat menimbulkan kesan bahwa adalah wajar
saja untuk berpura-pura bahwa segala sesuatunya beres meskipun sesungguhnya tidak demikian. Anak perlu disadarkan tentang krisis keluarga yang sedang melanda mereka dan didorong untuk berpartisipasi, dengan cara yang sesuai dengan umur anak, di dalam menghadapi krisis itu.

3. Biarkan anak-anak ikut membantu
Sebagai anggota keluarga, seorang anak akan ingin membantu memecahkan problemnya ketika keluarga sedang melewati masa yang sulit. Biarkan dia. Anak umur 4 atau 5 tahun umpamanya, dapat diberi tugas “bermain dengan diam ketika mamah sedang menelpon,” atau “menyikat gigi sendiri ketika mamah sedang menulis surat.” Seorang anak umur 7 tahun dapat “membantu membereskan meja sesudah makan malam setiap hari,” sementara anak 11 tahun “membantu adik yang akan tidur agar papah punya lebih banyak waktu untuk menulis surat lamaran kerja.”
Satu cara lain: Ajak anak-anak belanja ke pasar swalayan dan biarkan mereka ikut memikirkan cara-cara belanja yang menghemat anggaran.

4. Lanjutkan rutinitas yang sudah berjalan
Anak-anak bergantung pada rutinitas dan prediktibilitas untuk meyakinkan diri mereka bahwa dunia mereka adalah aman. Maka secara kritikal adalah penting untuk berusaha meneruskan rutinitas sehari-hari mereka sejauh mungkin itu dapat dilakukan. Seorang anak akan menderita lebih besar oleh rutinitas yang terputus daripada oleh ketidak-mampuan sementara anda untuk membelikan mereka mainan-mainan istimewa atau barang-barang bagus lain.

5. Jangan bebani anak terlalu berat
Meskipun anak-anak perlu diberitahu tentang krisis yang sedang melanda keluarga, tetapi jangan membuat mereka merasa bertanggungjawab untuk memperbaiki keadaan itu. Ada ibu yang terlalu berat bersandar pada anak-anaknya untuk mendapatkan topangan emosional. Contohnya, seorang ibu yang setelah mengalami suatu pengalaman PHK yang traumatik, meminta anak perempuannya yang berumur 5 tahun untuk tidur bersamanya “agar mamah tidak merasa kesepian.”

6. Lakukan secara hati-hati transisi yang harus anda buat
Jika anda telah di-PHK lama dan belum juga mendapat pekerjaan lain, anda mungkin harus membuat beberapa penyesuaian di dalam rutinitas anak anda.
Umpamanya, memindahkan anak anda yang berumur 6 tahun dari sekolah swasta yang “mahal” ke sekolah lain yang “lebih murah”. Lakukan hal ini pada awal tahun pelajaranbaru, agar transisi terasa lebih natural. Dan jelaskan kepada anak tentang rutinitasnya yang baru yang akan berbeda. Pastikan bahwa anda menjawab setiap pertanyaan sejujur dan sesederhana mungkin.

7. Carilah bantuan luar, jika perlu
Kadang-kadang anak bertindak dengan cara-cara yang menandakan kebingungan mereka. Perilaku regresif seperti mau “menempel” terus pada ibunya, menjauhkan diri dari teman-teman, hilang nafsu makan, tidur yang terganggu, kemunduran mendadak dalam prestasi belajar di sekolah, kembali kepada kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk seperti ngompol, tambah “nakal” di sekolah (problim-problim perilaku), boleh jadi merupakan tanda-tanda anak anda sedang mengalami kesulitan di dalam mengatasi keadaan baru itu.
Bila anak anda cukup matang, cobalah berbicara dengannya tentang bagaimana perasaannya. Tetapi bila perilaku non-karakteristik itu berlangsung lebih dari beberapa minggu, anda mungkin perlu bantuan dari luar – seorang profesional perawatan kesehatan mental, umpamanya.

8. Kuasailah emosi anda
Yang paling mengganggu seorang anak ialah melihat orang-tuanya kehilangan kendali secara emosional. Rasa sedih sampai suatu batas tertentu adalah wajar jika anda baru saja di-PHK, dan boleh-boleh saja menunjukkan kepada anak anda bahwa kadang-kadang papah dan mamah merasa sedih. Tetapi menangis sambil memaki-maki di depan anak anda akan mengamcam kepercayaan anak anda kepada kemampuan anda mengurus mereka apa pun juga yang terjadi.

Hal ini berlaku juga bagi anda bila yang di-PHK adalah pasangan anda. Anda tidak boleh menjadi cerminan stres pasangan anda, karena anak-anak anda akan melihat kepada anda untuk mendapatkan penegasan kepastian bahwa dunia mereka adalah masih aman. Kalau anda gelisah atau ketakutan dan meneruskan perasaan-perasaan itu kepada anak-anak anda, mereka akan ber pikir, “Kalau begitu, saya rasa kita benar-benar sedang dalam kesulitan bila baik mamah mau pun papah khawatir seperti itu.”
Meskipun marah adalah reaksi normal terhadap PHK, usahakan untuk tidak melampiaskannya kepada anak-anak. Jangan sampai anda membiarkan anak-anak anda menanggung bagian terberat dari amarah anda.

9. Selenggarakan “rapat” keluarga
Arti penting dari kekompakan dalam saat-saat kritis adalah salah satu dari pelajaran-pelajaran penting yang patut diperhatikan yang dapat diajarkan kepada anak oleh PHK orang-tua. Untuk membantu setiap anggota ke]uarga menghadapi krisis ini, adakan “rapat” keluarga setiap minggu dalam mana setiap orang memperoleh kesempatan untuk berbicara dan berbagi. Orang-tua yang di-PHK depat memberitahukan perkembangan mencari kerja yang dia lakukan. (Tidak perlu mendetail kalau anda belum berhasil, agar tidak menambah anksitas anak-anak.) Dan setiap anggota keluarga mendapat kesempatan untuk mengutarakan perasaannya dan upaya-upaya yang telah dilakukannya selama itu.

10. Tingkatkan semangat anda sendiri
Anak-anak merasakan bila orang-tuanya sedang bingung; mereka merasakan adanya peningkatan iritabilitas, kesedihan, atau distraksi. Dan seringkali, anak-anak merasa diri merekalah yang harus dipersalahkan untuk kesusahan orangtua. Untuk meniadakan perasaan-perasaan ini, curahkan waktu dan upaya untuk membangkitkan kembali semangat anda yang sedang gembos.
Tentu saja, penangkal paling baik terhadap kemurungan-kemurungan PHK adalah mendapatkan pekerjaan lain. Tetapi itu akan datang dengan ketekunan, waktu, dan sedikit kemujuran.
Namun, sementara menunggu, tidak ada hal yang lebih penting – baik bagi anda sendiri mau pun bagi anak-anak anda – daripada menjaga diri anda tetap tegar dan tidak goyah.

Sumber : Psychology Today

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: