Wiji Thukul

Tidak banyak orang yang mengetahui seorang Wiji Thukul, namun menurut saya, dia adalah seorang pahlawan yang sejati, pahlawan dengan kata – kata, pahlawan yang tak dikenal.

Wiji Thukul adalah satu yang menjadi inspirasi bagi banyak pergerakan kiri. Lebih dari sekadar inspirasi, ia merupakan sebuah realitas. Laki-laki kelahiran kampung Sorogenen, Solo, 23 Agustus 1963 ini memiliki nama asli Wiji Widodo. Wiji berasal dari keluarga tukang becak. Kemudian, dia hilang hingga kini.

Suami dari seorang perempuan sederhana bernama Dyah Sujirah alias Sipon, ayah dari Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah ini adalah sosok yang selalu bangga dengan puisi-puisinya. Ia ngamen puisi, baca puisi, bahkan melamar Sipon dengan puisi berjudul Catatan Malam. Lebih dari sekadar kesenangan, Wiji ingin menyejahterakan keluarganya dengan puisi.
Wiji merupakan sosok penyair yang istimewa karena ia mampu memahami realitas hidup dan mewujudkannya menjadi kata-kata yang dirasakan oleh banyak orang. Ia tak mendadak hilang. Wiji menjadi kerikil bagi zamannya terlebih dahulu. Melalui puisi-puisinya ia mampu mengusik zaman, mengetuk kesadaran dan menggerakkan perlawanan.
Bukan hanya sosok penyair, Wiji Thukul sempat aktif dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker), bagian dari Partai Rakyat Demokrat (PRD). Ia menggugat dan menjadi oposisi pemerintah orde baru. Ia menjadi sosok yang digelisahkan oleh penguasa.
Setelah peristiwa pengerusakan markas besar PDI pada 27 Juli 1996, Wiji tak kembali hingga kini. HILANG.
Hilangnya (baca:dihilangkannya) Wiji menimbulkan sebuah pertanyaan besar dalam diri saya secara pribadi, apakah seberbahaya itu puisinya? Pertanyaan serupa terlebih dahulu dirasakan oleh Sipon sebagai orang terdekatnya. Ketika musibah itu datang, Sipon mulai gelisah dan membuka-buka kembali puisi karya Wiji. Ketika menyelami puisi sang suami yang berjudul Momok Hiyong dan Peringatan barulah Sipon sadar.
Cobalah simak penggalan puisi Peringatan berikut ini, “Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: LAWAN!.
Sipon berkata pada anak-anaknya, bapakmu bukanlah bapakmu, bapakmu adalah milik orang banyak dan berbanggalah itu. Sifat jujur dan berani yang dimiliki Wiji terbukti menjadikannya mulut bagi banyak orang tertindas. Pada konteks politik masa orde baru, dua sifat tersebut merupakan barang langka.
Menurut saya kesenian harus mengungkapkan adanya dimensi manusia dan alam yang tertekan dan tertindas. Kaum seniman harus menunjukan dalam karya-karyanya suatu dimensi yang dalam kenyataan sosial yang ada belum atau tidak terwujudkan. Seniman harus dapat ‘mentransendirkan’ kenyataan yang ada. Wiji menjadi salah satu seniman yang seharusnya atau sesuai dengan kodrat hidupnya. Seniman yang merasakan sendiri hidup dalam kesulitan ekonomi seperti Wiji tentu dapat dengan sempurna mewujudkan realitasnya dalam bait-bait puisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: