Kesaksian Budiman

“Aku menjadi saksi atas penderitaan rakyatku yang tengah berjuang, dan akan kubawa kesaksian itu sampai ke pembebasannya.”

Budiman Sudjatmiko (lahir di Cilacap, Jawa Tengah, 10 Maret 1970; umur 38 tahun) adalah aktivis dari Partai Rakyat Demokratik yang menjadi tersangka dalam kasus Peristiwa 27 Juli. Ia dinilai bertanggung jawab dalam Peristiwa 27 Juli 1996 dalam penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia dan kemudian dijebloskan ke penjara. Setelah Indonesia dipimpin oleh Presiden B.J. Habibie, ia dan para tersangka lain dari Peristiwa 27 Juli diberi ampunan dan dibebaskan oleh Pemerintah Indonesia.

Belakangan, dia dan beberapa aktivis sealiran dalam Partai Rakyat Demokratik, PIJAR serta GMNI merapat ke PDIP dengan maksud dan tujuannya masing – masing. Orang seperti Budiman ini termasuk langka di negeri ini, dapat dibilang, dia adalah salah satu tokoh pergerakan politik terbaik di negeri ini, bahkan dalam sebuah perbincangan santai, tidak ragu – ragu mendiang Pramoedya A Toer menyebutnya sebagai tonggak dari angkatan muda yang kelak akan menyelamatkan bangsa ini.

Advertisements

Fajar Merah

Suatu hari, anak seorang korban penghilangan paksa menghadapi masalah di sekolah. Fajar Merah ditanya oleh gurunya mengapa ia mengisi kolom nama ayah dengan nama ibunya, Dyah Sujirah. Fajar menjelaskan bahwa ia tidak mengenal bapaknya. Ibunyalah yang membesarkan dia selama ini. Ibunyalah yang selama ini menjadi ayah bagi dia. Dia sendiri tidak tahu apa bapaknya masih ada atau tidak, karena ibunya juga tidak tahu. Ia tahu bahwa ayahnya adalah Wiji Thukul, tapi ia tidak mengenalnya dengan dekat karena dipisahkan kediktatoran, setelah pertemuan terakhir bulan Desember 1997, ketika Fajar ulang tahun yang ke-3.

Dimana kau sekarang berada wiji..??
Apabila kau masih berdiri, berdiri lah yang tegak..
Apabila kau sedang terduduk, terduduklah dengan nyaman..
Dan apabila kau sedang terbaring..
Terbaringlah dengan tenang..
Demi sang Fajar..
Yang masih merah berkobar seperti semangatmu yang dulu..

Mahkamah Konstitusi Membatalkan UU No. 16 Thn. 2008

Mahkamah Konstitusi, Rabu, 13 Agustus 2008 memutuskan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2008 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 45 tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2008 bertentangan dengan konstitusi negara Undang-undang Dasar 1945. Keputusan itu sebagai tindak lanjut dari permohonon uji materi yang diajukan oleh Moh. Surya beserta Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI.
Read the rest of this entry »

Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan

“Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta supaya saya menyerah pada engkau. Lebih baik meninggal daripada menyerah, walaupun bagaimana saya tetap merah putih.”

Karena prajurit ini memang tidak bermaksud menembak mati Musso, ia lari ke desa di dekatnya. Sementara itu pasukan-pasukan bantuan di bawah Kapt. Sumadi telah datang. Musso bersembunyi di sebuah kamar mandi dan tetap menolak menyerah. Akhirnya ia ditembak mati. Mayatnya dibawa ke Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar.

Soe Hok Gie, Orang – orang di persimpangan jalan.

Sebuah Bintang

Cobalah buka jendela kamarmu..
Tatapkan matamu pada luasnya langit yang kelam..
Hanya sepasang bintang dan sebuah bulan yang kau lihat..
Apabila Tuhan hanya memberimu sebuah saja dari sepasang bintang itu..
Maka pilihlah bintang yang paling terang..
Meskipun bintang satunya berkerlap – kerlip begitu indahnya..
Seakan memanggil dengan bahasanya untuk mendekat..
Percayalah, seseorang sepertimu jauh disana..
Juga terduduk di tepian sebuah jendela kamarnya..
Memandang bintangnya yang berkerlap – kerlip..
Miliknya sendiri.. bukan milikku..
Maka pandanglah bintangmu sendiri..
Meskipun bintang satunya.. seakan bergerak.. memeluk dengan sinarnya..
Namun ingatlah.. akan seseorang lain, yang duduk di tepian sebuah jendela..
Yang juga memandang pada kelamnya langit luas..
Dan kerlip bintang miliknya..

Untuk belalang tua, yang mencoba, memilih bintangnya sendiri..

Alexander Berkman

21 November 1870 – 28 Juni 1936

adalah seorang penulis asal Rusia dan juga seorang aktivis yang hidup dan banyak menghabiskan waktunya dalam bekerja di Amerika Serikat, di mana dia adalah seorang anggota terkemuka dari sebuah pergerakan anarkis disana. Berkman mempunyai hubungan yang erat dengan Emma Goldman salah seorang tokoh anarkis kelahiran Lithuania, dengannya pula ia sering berkolaborasi dan mengorganisir kampanye hak-hak sipil dan kampanye anti perang.

Read the rest of this entry »

LEKRA

Lembaga Kebudajaan Rakjat atau dikenal dengan akronim Lekra, merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia. Lekra didirikan atas inisiatif DN Aidit, Nyoto, MS Ashar, dan AS Dharta pada 17 Agustus 1950. DN Aidit dan Nyoto saat itu adalah para pemimpin PKI, yang baru dibentuk kembali setelah kegagalan gerakan Muso.

Lekra bekerja khususnya di bidang kebudayaan, kesenian dan ilmu. Lekra bertujuan menghimpun tenaga dan kegiatan para penulis, seniman, dan pelaku kebudayaan lainnya, serta berkeyakinan bahwa kebudayaan dan seni tidak bisa dipisahkan dari rakyat. Salah satu anggota Lekra lainnya yang terkenal adalah penulis Pramoedya Ananta Toer.

Lekra dibubarkan berdasarkan Tap. MPRS No. XXV/MPRS/tahun 1966, tentang pelarangan ajaran Komunisme, Leninisme, dan pembubaran organisasi PKI beserta organisasi massanya.

Manifesto Kebudayaan

adalah konsep kebudayaan nasional yang dikeluarkan oleh para penyair dan pengarang pada 17 Agustus 1963. Manifestasi ini dilakukan guna melawan dominasi dan tekanan dari golongan kiri, dengan ideologi kesenian dan kesusastraan realisme sosial yang dipraktekkan oleh seniman-seniman yang terhimpun dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Manifesto Kebudayaan juga dijuluki oleh pihak kiri sebagai Manikebu.

Pencetus manifestasi ini adalah Wiratmo Soekito, dan ditandatangani antara lain oleh Arief Budiman, Taufik Ismail dan Goenawan Mohammad.

Diilhami oleh semangat humanisme universal yang pertama kali dinyatakan lewat Surat Kepercayaan Gelanggang, Manifesto ini menyerukan, antara lain, pentingnya keterlibatan setiap sektor dalam perjuangan kebudayaan di Indonesia. Manifesto itu sendiri tidak menjabarkan dengan terinci langkah-langkah apa yang perlu diambil untuk memperjuangkan “martabat diri kami sebagai bangsa Indonesia di tengah masyarakat bangsa-bangsa”. Sehingga bisa dikatakan butir-butir yang disampaikan sebenarnya sama sekali tidak berlawanan dengan semangat yang hidup pada jaman itu: keinginan “menyempurnakan kondisi hidup manusia”.

Mungkin satu-satunya prinsip yang membedakan adalah penolakan mereka terhadap hubungan antara kebudayaan dan kekuasaan – posisi Sutan Takdir Alisjahbana dalam “Polemik Kebudayaan” 1930an. Dengan demikian, posisi Lekra yang mendahulukan pemajuan kebudayaan rakyat demi pembebasan kaum tertindas: buruh dan tani, dilihat sebagai upaya politisasi gerak kebudayaan. Ini dianggap mengancam supremasi prinsip-prinsip estetika dan menjerumuskan karya seni pada alat propaganda politik yang sarat dengan slogan-slogan verbal belaka.

Corat – Coret Gie..

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Sang Belalang : Apa yg ada dalam benak orang ini, hingga sempat berpikir seperti ini..??

Arief Budiman

“Saya terima penghargaan ini sebagai penghinaan. Saya ini orang kiri yang menolak paradigma modernisasi dan pembangunanisme, tetapi saya malah mendapatkan penghargaan dari orang kanan..”. Dalam pidatonya saat menerima penghargaan Achmad Bakrie 2006.

Arief Budiman (lahir di Jakarta pada 3 Januari 1941) dilahirkan dengan nama Soe Hok Djin. Ayahnya seorang wartawan yang bernama Soe Lie Piet. Bersama dengan adiknya, Soe Hok Gie, Arief terkenal sebagai aktivis demonstran Angkatan ’66. Pada waktu itu ia menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di Jakarta.

Read the rest of this entry »

Mikhail Bakunin

“Saya bukanlah seorang komunis karena komunisme mempersatukan masyarakat dalam negara dan terserap di dalamnya; karena komunisme akan mengakibatkan konsentrasi kekayaan dalam negara, sedangkan saya ingin memusnahkan negara –pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka”.

Salah satu kutipan dari pidato M. Bakunin dalam kongres ‘Perhimpunan Perdamaian dan Kebebasan’ Tahun 1868 di Bern, Swiss.

Mikhail Bakunin atau Mikhail Alexandrovich Bakunin adalah seorang tokoh politik kelahiran Rusia 30 Mei 1814. Bakunin adalah salah satu dari pemikir anarkis terbaik. Bahkan banyak yang menyebut bahwa ia adalah salah satu “pendiri gerakan Anarkisme”.
Bakunin merupakan seorang tokoh anarkis yang mempunyai energi revolusi yang dashyat. Bakunin merupakan ‘penganut’ ajaran Proudhon, tetapi mengembanginya ke bidang ekonomi ketika dia dan sayap kolektivisme dalam Internasionale Pertama mengakui hak milik kolektif atas tanah dan alat-alat produksi dan ingin membatasi kekayaan pribadi kepada hasil kerja seseorang. Bakunin juga merupakan seorang anti komunis yang pada saat itu mempunyai karakter yang sangat otoriter.
Read the rest of this entry »

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969)

adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin. Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, RRT.

Read the rest of this entry »

« Older entries