Cerita di balik gagahnya Tuanku Imam Bonjol

Seumur kita hidup, selalu terdengar kata wajib belajar, mau 9 tahun, 13 tahun atau seumur hidup sekalian..
Betapa lekatnya kita dengan beberapa mata pelajaran semasa duduk dibangku sekolah, yang akhirnya hanya seperti setumpuk dongengan yang sulit kita ingat lagi.
Apakah ini komitmen kita terhadap leluhur yang katanya mati2an membela tanah air yang kita pijak ini, atau memang kita hanya terpaku pada sejarah, dan melupakan bahwa setiap sisi kehidupan selalu ada hitam dan putih..
Kita dibuai oleh dongeng tersebut, sehingga lupa, bahwa setiap pahlawan yang kita tahu, pasti memiliki sesuatu nilai keburukan dan kita harus mulai mencoba menimbangnya..
Kali ini saya ingin berbagi soal sebuah tulisan yang membuat saya sedikit lebih pintar, memang bukan hasil penelitian dan pemikiran saya, namun seorang saudara yang berprofesi sebagai wartawan senior pada harian terkemuka di negeri ini.

Ingat kah anda dengan Perang Paderi..??

Perang Padri ( 1821-1838 ) di Minangkabau. Anda biasanya menghubungkannya dengan pemimpin kaum Padri, yaitu Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) yang melawan penjajah Belanda, tetapi akhirnya dikalahkan, menyerah, dan dibuang ke pengasingan mulanya di Priangan, lalu di Ambon, kemudian di Manado tempat dia meninggal dunia tahun 1864.

Gerakan Padri menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium, narkoba), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.

Anda niscaya tahu lebih banyak tentang Perang Padri apabila rajin membaca buku sejarah. Kendati begitu, masih juga ada segi-segi peperangan itu yang Anda tak tahu.

Saya membaca buku dalam bahasa Belanda, Het einde van de Padrie-oorlog. Het beleg en de vermeestering van Bonjol 1834-1837. Een bronnenpub licatie (G Teitler, 2004). Di situ terdapat empat sumber berupa surat, laporan, data, dan jurnal. Di situ terdapat data sejarah, tentu dari perspektif Belanda, tetapi menarik.

Perwira inlander

Belanda menyerang benteng kaum Padri di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku (kelompok etnis), seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira yang berada di depan Bonjol dapat dibaca Letnan Kolonel Bauer, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, dan seterusnya, tetapi juga nama Inlandsche Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.

Dalam jurnal ekspedisi, Mayor Jenderal Cochius ke Padang tanggal 1 April 1837 bersama Bonjol. Juga ikut serta 148 Europeesche officieren, 36 Inlandsche officieren, 1.103 Europeanen, 4.130 Indlanders, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen.

Yang dimaksud dengan belakangan ini adalah pasukan pembantu Sumenap alias Madura. Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol, maka jurnal menyebutkan antara lain ”orang-orang Bugis berada di bagian depan menerjang pertahanan Padri”.

Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Africanen 1 sergeant, 4 korporaals en 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, dewasa ini negara Ghana, Mali. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.

Apa artinya ini? Konsep dalam Sumpah Pemuda 1928: Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa yaitu Indonesia masih jauh panggang dari api. Untuk menegakkan kekuasaannya di Nusantara, Belanda melaksanakan asas Divide et Impera. Pecah belah dan perintah orang Jawa, Bugis, Madura, dan Ambon untuk menghantam serta menewaskan orang Minang, tidak ada masalah. Kesadaran berbangsa Indonesia belum ada. Tapi, gambaran lain ada dalam kasus Ali Basya Sentot, panglima perang Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).

Sentot dan Imam Bonjol

Dalam jurnal tanggal 25 April 1837 diceritakan bahwa Kolonel Elout mempunyai dokumen-dokumen resmi yang membuktikan kesalahan Ali Basya Sentot dengan kehadirannya di Sumatera.

”Inlander ini yang dulu sangat kita hormati tiba-tiba melakukan pengkhianatan. Dia berkhayal mengepalai penduduk Melayu dan bertujuan mengusir berstuur Eropa, dengan perkataan lain membunuh semua orang Eropa. Dia telah menjadi korban kejahatannya karena orang-orang Melayu seperti diketahui mempunyai kejengkelan yang sama banyaknya terhadap orang-orang Jawa maupun orang Eropa,” tulis Mayor de Salis.

Sebagaimana diketahui, Sentot, setelah usai Perang Jawa, masuk dinas Pemerintah Belanda. Kehadirannya di Jawa bisa menimbulkan masalah. Maka, tatkala Kolonel Elout melakukan serangan terhadap Padri tahun 1831-1832, dia memperoleh tambahan kekuatan dari legiun Sentot yang telah membelot itu.

Setelah pemberontakan tahun 1833, timbul kecurigaan serius bahwa Sentot melakukan persekongkolan (konspirasi) dengan kaum Padri. Karena itu, Elout mengirim Sentot dan legiunnya ke Jawa. Sentot tidak berhasil menghilangkan kecurigaan terhadap dirinya. Belanda tidak ingin dia berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Padang. Pada perjalanan ke sana Sentot diturunkan di Bengkulu di mana dia tinggal sampai mati sebagai orang buangan. Legiunnya dibubarkan dan anggota-anggotanya berdinas dalam tentara Hindia.

Cerita tentang Tuanku Imam Bonjol terdapat dalam catatan jurnal 6 Mei 1837. Seorang perempuan M, lahir di daerah Mandailing, melarikan diri dari Bonjol dan menyeberang ke pihak Belanda. Dia bercerita pernah tinggal di rumah Tuanku Imam Bonjol. Dia lari lantaran harus bekerja terlalu keras sedangkan makanannya sangat sedikit, hanya terdiri dari ubi.

Tuanku Imam Bonjol, katanya, sedang memulihkan kesehatannya dari luka-luka yang diperolehnya. Tuanku punya tiga istri dan empat selir. Salah satu istrinya ditembak mati bulan Desember yang lalu. Sedangkan seorang istri lain yang dikatakan dulu telah mati ternyata hanya mengalami luka-luka. Salah satu selirnya mau melarikan diri, tetapi dikejar oleh putra Tuanku Imam Bonjol, yaitu Sutan Sedi, dan dibunuh.

Saya tidak tahu Tuanku Imam Bonjol beristri begitu banyak. Anda juga tidak tahu?

Selanjutnya dicatat Kepala Perang Bonjol ialah Baginda Telabie. Kepala-kepala lain adalah Tuanku Mudi Padang, Tuanku Danau, Tuanku Kali Besar, Haji Mahamed, dan Tuanku Haji Berdada yang tiap hari dijaga oleh 100 orang.

Di gunung, yang memberi perintah ialah Tuanku Haji Be Di Bonjol dan terdapat enam meriam. Kebanyakan rumah sudah terbakar, hanya beberapa rumah dekat pegunungan yang masih berdiri. Halaman-halaman dikitari oleh pagar pertahanan dan parit-parit. Residen Belanda, menurut catatan tanggal 7 Juni, mengirim utusan-utusannya untuk berunding dengan Tuanku Imam Bonjol.

Tuanku menyatakan bersedia melakukan perundingan dengan Residen atau dengan komandan militer. Perundingan itu tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku akan datang ke tempat berunding tanpa membawa senjata. Tapi perundingan tidak terlaksana. Sebab, Belanda berpendirian bahwa Tuanku Imam Bonjol harus menyerah tanpa syarat.

Doebelang Arab

Belanda memang bersikap keras. Pos Goegoer Sigandang yang dijaga oleh seorang sersan Belanda dan 18 serdadu dipersenjatai dengan sebuah meriam pada tahun 1833 diserbu oleh orang-orang Minang.

Mereka membunuh sersan dan seluruh isi benteng. Belanda balas dendam. Kol Elout memanggil beberapa pemimpin dari daerah Agam untuk menghadapnya di Goegoer Sigandang dan 13 orang muncul. Atas perintah Kolonel, ke-13 orang itu digantung semua. Tindakan ini di mata orang-orang Melayu sangat menurunkan derajat Belanda.

Selain penduduk Bonjol, terdapat pula di benteng 20 orang serdadu Jawa yang telah menyeberang ke pihak Padri dan seorang perempuan Sumenep. Di antara serdadu-serdadu yang telah meninggalkan tentara Belanda itu terdapat seorang yang bernama Ali Rachman yang berupaya keras untuk merugikan Kompeni. Juga ada seorang pemukul tambur bernama Saleya dan seorang awak meriam (kanonnier) bernama Mantoto.

Seterusnya ada Bagindo Alam, Doebelang Alam, dan Doebelang Arab. Menurut jurnal, Doebelang Arab secara khusus berkonsentrasi untuk mencuri dalam benteng-benteng Belanda.

Yang menarik ialah kebiasaan menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Kaum Padri melakukan ini di daerah Mandailing. Perdagangan budak masa itu sebuah gejala lazim. Sebuah kisah human interest ialah tentang pasar Sungai Puar. Kaum perempuan yang mengunjungi pasar, bila memakai tutup kepala berwarna merah (rode kap, kata penulis Belanda), maka itu adalah tanda bahwa perempuan itu sudah memasuki usia kawin dan masih perawan.

Perempuan lain memakai tutup kepala warna merah dan putih, atau biru dan merah. Asal tahu saja.

Mudah-mudahan sepenggal tulisan ini sedikit membuat mata kita terbuka, bahwa pahlawan juga sama seperti kita, dan kita pun adalah pahlawan, yang membela harga diri kita masing2, kecuali kamu sendiri yang tidak membela diri sendiri.

2 Comments

  1. garang sutan palindih said,

    1 September, 2008 at 7:22 pm

    tulisan yg membosankan! anda salah dalam membaca dokumen belanda bung. jgn keblinger sendirian…

    -garang-

  2. matahari said,

    3 September, 2008 at 3:18 am

    @ garang sutan palindih
    Sumber dokumen belanda yang anda sebut kan yang mana yah ? kebetulan saya ada tugas sejarah tentang imam bonjol. mana tau referensi anda yang menganggap tulisan ini “salah dan membosankan” bisa jadi tambahan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: