Merah Hitam Kecoklatan

Dibawah pohon randu.. diantara angin kencang..
Aku berkaca pada basahnya tanah yg terinjak..
Merah.. hitam.. kecoklatan..
Seperti darah.. batu karang.. dan akar pohon angsana..
Hujan tak juga reda dari sore tadi..
Gerimis tanpa mendung.. dan berujung tanpa pelangi.

Sang Dewa

Seribu pedang terbaik.. bisa ku tempa dalam semalam saja..
Tapi tetap tak pernah dapat melawan seorang dewa penguasa neraka.
Seribu tentara tergagah.. berdiri kokoh diantara api dan halilintar..
Tapi tetap takkan pernah mampu melukai sang dewa..
Seribu anak panah kulepaskan berbarengan..
Berkilat-kilat dan menyambar bersahutan..
Sedikitpun tubuh itu tak pernah bergeming..

Aku berbalik.. berjalan mundur..
Tapi tidak untuk pulang.. tidak juga menyerah..
Hanya duduk diam setengah bersembahyang..

Wahai Sang Hyang Jagat Raya..
Aku terduduk disini.. mengharap ijin dan restu..
Untuk pulang dan beristirahat..
Hingga suatu waktu.. Aku melihatnya tersenyum..
Meskipun bukan untukku..

Belalang Tua.. yang terlalu sadar.. bahwa pelangi selalu sebuah bias semu.. yang tak pernah dapat digenggam.. bahkan disentuh.. hanya dapat ditunggu.. sore hari..  setelah hujan deras.. dan pelangi hanya datang sekilas saja.. dan akan pergi lagi menghilang.. kembali ke pangkuan sang dewa..

Bisu Tanpa Ampun

Sore bulan November..
Semakin redup dan beranjak malam
Desember pun mulai menampakkan bias – bias nya
Mengapa November ini berlalu begitu cepat
Seperti berlari sunyi menjemput kebohongan yang nyata
Tiga atau empat langkah pandanganku jauhnya..
Tertutup pekatnya mendung, awan hitam dan indahnya kepalsuan.

Dalam doaku petang ini..
Datanglah Desember, dan biarkan aku berlari sunyi..
Tergopoh – gopoh, membawa semua cerita dan mimpi berhamburan.
Berserakan.. diantara caci maki doa yang terlanjur dipanjatkan..
Senja ini tak pernah tertunda.. malam akan segera datang..
Menggantikan mimpi yang tak pernah menjadi harapan
Berdiri menantang, menyerang.. membantai bisu tanpa ampunan

Dalam doaku saat malam menjelang..
Berikan aku satu Januari, secarik kertas dan sebuah pena..
Biar ku tulis, awal dari sebuah dongeng..
Tentang putriku Jibril, yang cantik seperti ibunya..
Atau Mikail puteraku, yang pandai membuat belati..

Bandung Selatan

senja itu.. dataran tinggi bandung selatan..
putih.. abu.. dipayungi kabut dan awan..
senja ini bercerita..
tentang indahnya dongeng tentang tiga atau empat gulir purnama
yang beranjak hilang.. di telan malam temaram
meninggalkan setitik kecil bintang yang pudar..
yang menjadi pandu.. jalan kembali pulang
dimana jibril dan mikail pun bersorak kegirangan
berlarian.. melompat dan memeluk..
di antara mimpi yang paling nyata.

Matahari..Pelangi..Hujan

Diantara mendung.. kita bercerita..
Tentang indahnya pelangi.. yang datang setelah hujan deras..
Membawa helai demi helai senyum dan tawa
Diantaranya.. berbaris sejuknya embun sore..
Yang perlahan menghilang diatas tanah basah..
Menggaungkan kisah tentang senja yang merah
Diantar burung – burung liar yang berlalu pulang
Dilagukannya sebuah nyanyian khidmat
Tentang kita yg terduduk di lengkungnya bukit..
Menunjuk bintang, yang perlahan mulai datang.

Pagi Hari Ini

Pagi ini tak pernah sama dengan kemarin
Karena pagi ini begitu dingin
Sedingin harapan lalu yang telah mati
Matahari mulai menampakan sinarnya
Membawa sebuah harapan dan cerita baru
Namun tetap dengan tema dan judul lama
Tentang pengorbanan, rasa sakit, dan sia – sia
Tanpa pilihan, sejengkal demi sejengkal ku jejaki
Dan tetap akan kujejaki, hingga perjalanan ini berujung
Pada sebuah harapan baru, yang entah itu apa.

Lilin

Sepi dan hening ditengah gelap
Dan cahaya lilin ini jauh semakin redup
Api ini seolah sedang berbicara dengan bahasanya
Bahwa segenggam harapan pun termusnahkan
Berbicara tentang segala kebenaran dan kenyataan
Dimana api takkan pernah berbohong
Dan dia akan bercerita dalam bahasanya
Bahwa sebuah garis hitam, diatas lembaran putih
Mulai pudar perlahan menjadi keabu-abuan..

Terhapus dendam yang tak berkesudahan
Dan takkan pernah ada api yang lain..
Karena lilin ini kerap bercerita dengan bahasanya
Tentang sebuah penggalan kisah yang paling indah
Dan menjadikannya kekal..
Takkan usang, walaupun keras dihantam jaman.

Hujan Deras

Hujan yang teramat deras dibulan Maret
Sejuta titik menghujam jatuh ke bumi
Membawa sejuta harapan untuk benih – benih mimpi

Ini bukan air mata sang kala
Melainkan harta karun yang tumpah terburai
Untuk negeri yang katanya akan berubah haluan
Atas nama mimpi, harapan dan pengorbanan

Petir pun bergeser mencakar
Menambah sebuah tantangan
Menebarkan teror ancaman kehancuran
Atas nama penguasa, pemegang tahta kejayaan

Sanggupkah kalian berdiri bertahan
Diantara jatuhnya hujan dan lambaian halilintar
Ataukah kalian hanya akan berteduh menepi
Dan menandakan bahwa seolah semua telah mati

Untuk para petarung negeri, yang berperisai poster dan bersenjatakan janji..

Langit Sore

Sore ini, begitu indahnya
Langit jingga, malu – malu tertutup tipisnya awan
Dan ujungnya tersibak angin dengan perlahan

Sang mentari pun mulai menepi dan tenggelam
Meninggalkan sebuah pesan dari surga
Dimana tak ada sesuatu yang berlangsung abadi
Segala hal akan selalu datang dan pergi

Namun ini bukanlah sebuah rasa yang sia – sia
Melainkan cerita yang terindah sepanjang masa
Berjuta harapan yang akan bersemi sebagai mimpi

Hangat Bulan

Malam ini kubiarkan pintu kamar ini terbuka sebagian
Biar dapat kulihat bulatnya bulan, yang tipis tertutup awan
Apakah nyenyak tidurmu malam ini sayang ?
Terjagalah walau hanya sejenak, dan tataplah bulan itu
Bulan yang sejak tadi kutatap, juga bulan yang kau dekap

Bila kau rasakan hangatnya, hingga kau sadari
Tanganku takkan mampu hangatkan mu seperti itu
Biar kutitipkan salamku kepada bulan itu
Agar selamanya kau ingat, bahwa aku pernah ada
Meskipun takkan setiap malam menemanimu

Dan bulan pun perlahan meredup
Sedikit demi sedikit awan menutupi bulat cahayanya
Seakan memberi makna, untuk misteri yang terungkap
Akhir dari sebuah mimpi, yang teramat panjang

Untuk ia yang pernah ada, saat kami berjalan dengan arah yang sama.

Gerimis

Gerimis sore ini begitu indah
Rintik – rintik kecil terdengar seperti nyanyian alam
Airnya jatuh, diatas bulir pasir yang gersang
Dan menghilang tanpa bekas
Seperti pergi begitu saja tanpa pesan yang tertinggal

Haruskah aku berguru kepada hujan atau bertanya kepada angin
Agar aku tahu, apa pesan rintik hujan kepada pasir yang gersang

Tanpa terasa, rintik demi rintik hujan pun menghilang
Meninggalkan pudarnya warna pelangi
Berlapis warna warni dengan indahnya
Seakan sembunyikan harapan yang seharusnya tak ada

Doa bagi seorang kawan, yang sedang berjuang mencari hujannya sendiri

Memar, Hitamnya Luka, Terpatri

Amarah tak terbendung
Memar dan luka hitam terpatri
Menjadikannya sebuah penyakit
Mengalir diantara gelimang darah
Deras diantara desakkan nafsu hina
Bercampur tawa terkeras, dan senyum kemenangan
Menebar sejuta ketakutan, yang hadir di setiap tidurmu

Ujung mata ini saksinya, yang menjadikanmu abu
Terbakar diantara bara kematian yang kekal
Hingga terlepas sebuah jiwa dari raga yang rapuh
Dan saat itu aku masih tetap akan mendongak berdiri
Sombong, angkuh, tanpa ampunan

Bagimu pecundang, yang bangunkan belalang tua dari istirahatnya yang teramat panjang.

« Older entries